Minggu, 22 Oktober 2017

Altruisme sejati...masihkah ada di dunia ini ?

   Pada hari Jumat Tanggal 15 September 2017, saya dan teman-teman saya yang diberi amanah sebagai panitia hari ulang tahun sekolah merasakan kebingungan karena saat itu kami yang ditunjuk sebagai panitia acara ini dan memegang jabatan untuk pameran karya ilmiah sulit untuk menyelesaikan karya kami tentang elektronika yang hampir mau selesai namun tiba-tiba mendadak rusak ( padahal kami sudah diberi waktu 2 bulan untuk menyelesaikan 3 karya tapi karena kami punya kesibukkan sendiri sehingga kami tidak bisa menyelesaikannya dengan baik) sehingga kami pun berdiskusi bagaimana caranya agar selesai. Akhirnya setelah diskusi, kami mendapatkan solusi bahwa kami harus pergi ke tempat servis elektronik agar bisa berkonsultasi dengan karya yang yang dekat dengan salah satu anggota panitia. Akhirnya saya baru ingat bahwa di dekat rumah saya sendiri lah tempat servis elektronik ada. Saya baru mengetahui hal tersebut dan saya pun pergi sendiri karena teman-teman saya harus menyelesaikan job mereka yang lain. Saya pun tiba ke rumah tempat servis elektronik tersebut dan bertemu dengan bapak-bapak yang saya kenal. Saya pun berkonsultasi dan bertanya kepada beliau tentang apa saja yang harus diperbaiki. Dan ketika selesai saya membayar beliau dengan uang karena biaya konsultasi. Namun beliau menolak uang tersebut dan menawari saya untuk belajar/les kepada beliau  serta menggratiskan biaya pembelajaran. Saya pun kaget mendengar hal tersebut. Rasa penasaran saya terusik dan akhirnya saya mencoba belajar kepada beliau seminggu sekali. Dan saya mencoba membayar beliau. Namun Beliau tetap saja menolak berapapun biayanya. dan sudah beberapa kali saya membayar tetapi tetap saja beliau menolak. Saya pun bertanya kepada murid les beliau juga.Muridnya pun merasa enak karena bisa gratis dan kalaupun dia memaksa bapak tersbeut untuk menerima uang, tetap saja menolak. Saya pun mencari informasi seputar tentang beliau. Akhirnya saya mencari informasi tersebut kepada ayah dan tetangga saya. Ternyata beliau memang orang yang sangat sederhana.Beliau tidak ingin ilmu yang diberikan kepada orang lain dibayarkan oleh uang. Beliau hanya ingin orang tersebut bersungguh-sungguh dan beliau sangat ingin menolong orang lain. Meskipun beliau mempunyai tempat servis dan berprofesi sebagai tempat servis, tetapi beliau tidak pernah menuntut biaya harus ketentuan beliau. Dari sana saya merenungkan diri. Bahwa betapa sederhana nya orang seperti beliau. Dari sana saya belajar tentang kesederhanaan dan Altruisme. Saya pun merenung dan berfikir bahwa di zaman yang hedonis seperti ini akankah ada orang seperti ini?. Ketika saya memikirkan tentang hal ini air mata saya jatuh dan saya terus merenungkan hal ini agar saya dapat sadar betapa bermanfaat hidup ini dengan kesederhanaan dan Altruisme.
   Altruisme merupakan sebuah faham dimana kita sebagai manusia akan memperhatikan kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Saya tahu bahwa objektivisme pun diperlukan. Tetapi, alangkah baiknya apabila kita juga menjadi seorang Altruis. Dengan Altruisme, kita mengetahui bagaimana kita berbagi dengan orang lain. Kita tahu bahwa Altruisme memang mempunyai batasan. Tetapi, ketahuilah bahwa dengan kesederhanaan dan kepedulian kita terhadap orang lain, maka hidup kita  akan bermanfat bagi orang lain.